Thursday, September 6, 2018
Thursday, August 16, 2018
Sejarah, Konsep, dan Perkembangan SPA di Indonesia
Spa di Indonesia telah ada sejak zaman kerajaan Hindu dan Budha dan telah
menjadi tradisi pada ritual-ritual adat asli Indonesia. Hal ini dapat ditelusuri pada peninggalan sejarah berupa tempat pemandian kuno (patirtan) berupa candi yang berfungsi sebagai tempat pemandian dan terlihat pula pada relief candi-candi, seperti yang terdapat pada candi Borobudur. Pada umumnya tradisi perawatan tubuh di Indonesia dilakukan dengan mandi berendam pada sumber mata air alami
maupun buatan (kolam pemandian) dan dengan cara melakukan pemijitan tubuh serta perawatan tubuh dengan wewangian alami dari bunga segar maupun minyak aromatik (Tilaar, 2011, hal. 6). Peninggalan sejarah tersebut menunjukan tradisi bagaimana cara melakukan perawatan tubuh dan kecantikan bagi wanita. Kecantikan di Indonesia mempunyai filosofi Rupasampat Wahyabiantara (Tilaar, 2011, hal. 17), yang artinya kecantikan berasal dari perpaduan yang harmonis
antara kecantikan lahiriah dan kecantikan batiniah. Kecantikan lahiriah adalah keindahan rambut, keelokan wajah dan tubuh. Kecantikan batiniah adalah kepribadian dan keluhuran budi yang memancar dari lubuk hati. Konsep kecantikan Indonesia juga dikenal istilah Panca Rasa Manunggal (Tilaar, 2011, hal. 28). Panca rasa manunggal merupakan perawatan tubuh dengan pendekatan holistik agar diperoleh kacantikan abadi yang tidak memandang usia, yang didapatkan dari sito saliro, ron walih saliro, mayongga seto, pasa rasa, dan berdoa. Sito saliro adalah perawatan tubuh dari agar memancarkan kecantikan raga. Ron walih Saliro adalah perawatan tubuh dari dalam menggunakan bahan alami dan jamu. Mayongga Seto adalah terapi tradisional yang menggabungkan
olah tubuh, olah rasa, dan olah pernafasan untuk menghasilkan bio-energi. Pasa rasa adalah diet tradisional yang terdiri dari pasa mutih, pasa ngrowot, pasa ngalong, pasa dino, puasa asrep-asrepan, dan pasa melek. Sedangkan berdoa merupakan kegiatan meditasi untuk relaksasi dan menyeimbangkan antar diri sendiri, sesama, alam sekitar dan Sang Pencipta.
Sunday, May 27, 2018
Monitoring dan Evaluasi pada Desa Wisata
TUGAS MANAJEMEN DESA WISATA
MONITORING DAN EVALUASI
MASYARAKAT
Kelompok 2
Nama Kelompok :
Ana Finurika (16/401165/SV/11669)
Arinningsih (16/401171/SV/11678)
Ariska Fertanti (16/401176/SV/11680)
Cahyo Dedi Derado (16/401179/SV/11683)
Faida Novian Ulfa (16/401188/SV/11692)
Naadaa Kamilia (16/405788/SV/12484)
Monitoring
Tahap monitoring adalah tahap aktifitas yang ditunjukan untuk memberikan informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan yang sedang dilaksanakan. Monitoring dilakukan ketika sebuah kebijakan sedang diimplementasikan.
Monitoring untuk masyarakat :
Cara masyarakat memandang pembentukan desa wisata yang ada di lingkungan sekitarnya.
Indikator
Tingginya tingkat sadar wisata dan pikiran terbuka masyarakat mengenai penerimaan pembentukan desa wisata yang ada di lingkungan sekitarnya.
Perbandingan jumlah masyarakat yang setuju atau menerima dengan masyarakat yang tidak setuju dan tidak menerima pembentukan desa wisata yang ada di lingkungan sekitarnya.
Peran masyarakat dalam pembentukan desa wisata.
Indikator
Memahami tugas pokok dan fungsi sebagai kelompok sadar wisata.
Perbandingan jumlah masyarakat sekiar yang aktif atau ikut serta dan yang pasif atau tidak ikut serta dalam pembentukan desa wisata.
Dampak ekonomi dari pembentukan desa wisata yang ditimbulkan untuk masyarakat sekitar.
Indikator
Peningkatan jumlah pendapatan masyarakat.
Perbandingan jumlah masyarakat miskin dan berkecukupan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Berkurangnya pengangguran.
Sikap masyarakat terhadap budaya luar ( culture shock)
Indikator
Kesiapan masyarakat terhadap budaya luar yang dipengaruhi oleh wisatawan yang berkunjung ke desa wisata tersebut.
Filterisasi masyarakat setempat dalam mengolah budaya baru dari luar.
Cara masyarakat mempertahankan budaya lokal
Indikator
Pengaruh kearifan lokal sebagai daya dukung masyarakat lokal dan wisatawan.
Seberapa jauh masyarakat sekitar melestarikan dan menjaga budaya lokal yang ada.
Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahap untuk menilai keberhasilan kegiatan dengan membandingkan antara tujuan dengan hasil yang dicapai atau antara program dengan pelaksanaannya. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau suatu kebijakan sudah berjalan cukup waktu.
Evaluasi untuk masyarakat :
Pandangan masyarakat secara general tentang terbentuknya desa wisata.
Pembentukan desa wisata melalui peran dan kontribusi masyarakat setempat.
Peningkatan ekonomi yang ditimbulkan oleh masyarakat.
Sikap masyarakat dalam menerima budaya baru.
Eksistensi kearifan lokal dalam menjalankan desa wisata.
Sunday, March 18, 2018
Tuesday, March 13, 2018
Pentingnya Kelembagaan Bagi Desa Wisata
Pada pembahsannya sebelumnya, telah dipaparkan apa itu pemberdayaan dan bagaimana pemberdayaan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat yang memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan status sosial komunitasnya. Selain pemberdayaan, perlu adanya kelembagaan yang mengatur jalannya aktivitas sesuai dengan harapan masing-masing anggota masyarakat. Kelembagaan ini adlah wadah yang menjadi peengrasi masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya agar dapat ditampung dan ditindaklanjkuti berdasarkan kesepakatan bersama. Hal ini merupakan salah satu contoh pembangaunan yang melibatkan semua warga yang menjadi anggota komunitas tersebut. Menurut saya, struktur kelembagaan yang sesuai terdiri dari :
Terdapat 2 Pertanyaan yang muncul berdasarkan pembahasan Kelembagaan :
1. Siapa saja yang perlu terlibat?
2. Sebutkan dan jelaskan 2 contoh desa wisata yang memiliki kelembagaan yang baik dan desa wisata yang memiliki kelembagaan tidak baik !
Berdasarkan pertanyaan tersebut, saya memaparkan yaitu :
1. Semua masyarkat yang secara wilayah administratif berada atau tinggal di daerah yang menjadi Desa Wisata maka berhak mengelola bersama desa wista tersebut. Masyarakat tersebut adalah semua anggota masyarakat berdasarkan wilayah administratif. Hak masyarakat tersebut yiatu terlibat dan memiliki kewajiban dalam bergotong royong membangun dan menjaga Desa Wisata tersebut. Tetapi, Kelembagaan hadir untuk menjembatani semua hal yang menjadi opini, saran, dan kritik masyarakat. Lembaga disini berarti sebagai penengah bagi masyarakat yang terlibat. Lembaga terbentuk karena banyaknya keinginan yang masyrakat yang mungkin akan berbenturan dengan keinginan masyarakat lainnya. Perbedaan tersebut akan dengan mudah memunculkan suatu konflik internal yang akan menghambat proses berkembangnya desa wisata tersebut, sehingga peran kelembagaan dalam desa wisata cukup penting dan diperhitungkan.
2. Desa wisata yang memiliki kelembagaan yang bik yaituDesa Wisata Nglanggeran. DesaWisata ini dibangun atas prakarsa warga dan berhasil menerapkan CBT yang baik sehinggamsayarakat desa merasakan dampk positif dari adanya desa wisata. Salah satu contoh yang mencerminkan kelembagaan yang baik yaitu dengan adanya rapat rutin yaitu mingguan, bulanan dan tahunan. Rapat mingguan dilakukan untuk menyerahkan laporan pendapatan dan juga naggaran belanja Desa Wisata Nglanggeran. Kemudian, rapat bulanan digunakan untuk melakukan evaluasi dan juga membahas projek kegiatan dalam waktu terdekat, terakhir yaitu rapat tahunan yang merupakan pertemuan wajib dalam hal menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban dalam jangka waktu 1 tahun. Selanjutnya yaitu Desa Wisata yang memiliki kelembagaan tidak cukup baik yaitu Desa Wisata Kasongan. Desa Wisata yang memiliki ke-khas-an berupa gerabah, memiliki masalah internal yang cukup pelik. Permasalahan tersebut berawal dari sebuah inovasi yang disampaikan olehs eorang seninam setempat dan juga pengrajin keramik yang menernagkan bahwa Desa Wisata Kasongan sejtinya akan megalami kemunduran apabila tidak adanya diversifikasi produk. Sehingga, tokoh tersebut meminta agar pengrajin gerabah mengganti hasil seni nya menajdi keramik yang menurutnya lebih meiliki nilai tinggi untuk dijual. Kemudian, warga tidak setuju dan menetang uuslan tersebut. Sehingga warga mulai membuat kubu tersendiri dan tidak mau lagi duduk bersama membahas bagaimana keberlanjutan Desa Wisata Kasongan. Hal ini cukup jelas bahwa peran kelembagaan kurang berpengaruh, karena akan jauh lebih baik jika kelembagaan mengambil peran untuk melakukan mediasi atau negosiasi ulang demi keberlanjutan Desa Wisata Kasongan.
Monday, March 5, 2018
Perwatakan Tokoh Wayang Cepot sebagai Refleksi Diri
Perwatakan Tokoh Wayang Cepot sebagai Refleksi Diri
Sumber : http://wajah-indonesia-ku.blogspot.co.id/2012/03/karakter-tokoh-wayang-golek-astrajingga.html
Latar Belakang Wayang :
WAYANG memang sudah menjadi ciri khas budaya
dari Indonesia, khususnya untuk wilayah pulau Jawa termasuk Jawa Barat. Jenis
wayang yang terkenal dari pulau Jawa bagian barat ialah Wayang Golek. Bagi
masyarakat Sunda sendiri, wayang golek sudah menjadi hiburan yang merakyat,
mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Wayang golek sendiri mempunyai
banyak tokoh, tetapi yang paling terkenal dan paling diingat oleh masyarakat
ialah Si Cepot. Ia adalah sosok wayang yang penuh selera humor dan sudah
menjadi ikon dari wayang golek.
Sampai-sampai ada yang bilang, “Bukan orang
Sunda namanya jika belum mengenal Si Cepot”. Seistimewa apakah sosok Si Cepot
ini sehingga menjadi ikon dari wayang yang berasal dari Tanah Sunda? Si Cepot
atau yang dalam pewayangan mempunyai nama Astrajingga merupakan salah satu
tokoh yang terdapat dalam dunia pewayangan, khususnya dalam kesenian wayang
golek. Dia ini mempunyai wajah yang merah dengan gigi bawahhnya yang besar dan
menonjol ke atas. Warna wajahnya yang merah ditafsirkan kitab wayang sebagai
cerminan karakter yang buruk. Si Cepot ini mempunyai ciri khas suka ngabodor
(bercanda).
Cepot merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara yang terlahir dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Dia
mempunyai dua adik, yakni Dawala yang berhidung panjang dan Gareng yang
berhidung bulat. Nama Astrajingga sendiri berasal dari dua kata, yakni sastra
yang berati tulisan dan jingga yang berarti merah yang melambangkan kelakuan
yang buruk. Jadi Astrajingga merupakan cerminan karakter yang berkelakuan buruk
seperti nilai rapor yang memiliki nilai merah. Tapi uniknya, meskipun Si Cepot
sangat konyol dan selalu membuat jengkel, kehadirannya dalam suatu pertunjukan
wayang malah selalu dinantikan. Karena kelucuan Si Cepot berdasarkan pada
norma-norma, nilai-nilai, dan sikap hidup, sehingga kelucuannya mampu diterima
oleh semua kalangan.
Humornya juga sering menyentuh kehidupan
sehari-hari. Dia merupakan tokoh yang sangat setia, kemanapun ayahnya pergi dia
selalu menemaninya. Bahkan dia sangat setia pada negaranya, kesetiaannya
ditunjukan saat bertarung mati-matian dengan buta hijau, antek kurawa demi
membela negaranya. Karena wataknya yang suka bercanda, banyak orang yang
menyukai tokoh ini dan membuat Si Cepot menjadi terkenal.
Dia ini tak pandang bulu dalam bercanda, Siapa
saja bisa menjadi bahan candaannya, mulai dari para ksatria maha sakti, raja,
sampai para dewa di langit. Tetapi dibalik humornya, Si Cepot ini selalu
memberi nasihat dan petuah, tak jarang ia juga memberi kritikan pada
pemerintah. Perilaku dan ucapannya selalu mengajarkan kita untuk bergotong
royong, setia, selau ceria, dan membela kebenaran. Oleh karena itu, dalang biasanya
menggunakan Si Cepot untuk menyampaikan pesan-pesan seperti kritik maupun
petuah dengan sindiran yang disampaikan sambil guyon, agar bisa diterima oleh
banyak orang.
Si Cepot beserta ayahnya dan kedua adiknya ini
termasuk ke dalam tokoh wayang Punakawan, yakni tokoh abdi yang bertugas
menasihati atau memberi petuah bijak bagi para Pandawa. Dalam suatu pertunjukan
wayang golek, para tokoh ini biasanya ditampilkan pada bagian tengah cerita,
ini dimaksudkan untuk membuat penonton lebih rileks dan bisa tertawa saat
cerita mulai serius dan tegang. Dalam cerita pewayangan Si Cepot ini biasanya
menemani para ksatria, terutama Arjuna dan Madukara. Dia juga bisa bertempur
seperti ksatria, senjata andalannya dalam berperang berupa Bedog (Golok).
Memang sangat unik wayang yang satu ini. Banyak
hal yang patut dicontoh darinya. Di balik pribadi Cepot yang lucu dan suka
membuat geger politik dengan tingkah laku yang nyeleneh, dia juga selalu punya
pesan moral yang begitu bagus. Cepot merupakan cerminan rakyat jelata yang
mempunyai sikap santai, setia, humoris, namun juga berani membela kebenaran.
Keunikan dan Ke-Khas-an
Wayang Cepot :
·
Wayang cepot adalah wayang Golek khas Tatar Sunda
- Wayang Cepot adalah salah satu tokoh terkenal di dalam
wayang Golek
- Wajah nya merah yang menandakan sifat yang buruk
- Giginya yang besar dan bibir yang lebar pertanda banyak
omong.
Sikap dan Sifat yang mencerminkan saya :
- Humoris
Cepot selalu diceritakan sebagai tokoh yang
humoris. Hal tersebut merupakan setengah dari bagian diri saya.Walau muka saya
terlihat seram,
begitupun cepot, tetapi saya sering membuat oranglain tertawa
karena humor atau tingkah saya yang dianggap "ada-ada saja"
- Suka nge-Banyol
Berbeda dengan humoris, sifat Cepot yang suka
ngebanyol terlihat dari celetukannya yang membuat orang tertawa.
Saya pun merasa demikian.Terkadang dalam satu forum atau acara
saat saya mengeluarkan celetukan saya selalu dianggap banyol.
Padahal saat itu niat saya sedang serius.
- Memberi Kritik dan Saran
Sama hal nya seperti cepot, tidak selamanya
sesuatu dianggap bercanda. Ada kala dimana cepot menyampaikan kritik dan saran.
Hal ini terlihat jelas apabila dalang mengakhiri sebuah pentas dan menajdikan
cepot sebagai tokoh yang menyampaikan kritik dan saran tersebut. Saya pun
demikian.Tidak seua hal yang membuat orang lain tertawa adalah sebuah candaan.
Saya tidak sungkan menyampaikan kritik selama tidak keluar dari konteks kritik
yang membangun. Terkadang saya juga dapat melihat celah diana saya harus
memberikan saran saya baik kepada individu atau kelompok. Kedua hal tersebut
harus kita lakukanb sebagai manusia agar ada niat untuk memperbaiki diri.
Sikap dan Sifat Buruk yang Mencerminkan saya :
- Tidak peduli pada siapapun baik Ksatria, Raja maupun
Para Dewa
Sebagai manusia biasa saya percaya bahwa setiap
orang memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing-masing. Hal ini membuat saya
percaya bahwa presiden sekaligus hanya perlu dihormati sekedarnya saja. Tidak
perlu terlalu diagungkan karena bagaimana pun rakyat adalah segaanya. Salah
satu sifat buruk saya sama seperti Cepot adalah kurang bisa bermuka manis
dihadapan orang penting atau pemimpin. Hal itu membuat saya sedikit dihindari
oleh yang lain karena dianggap mengancam.
Sumber :
Sunday, February 18, 2018
MANAJEMEN DESA WISATA ( Rural Tourism and Recreation)
Resume Mata Kuliah Manajemen Desa Wisata
Rural Tourism and Recreation
Rural torism adalah segala bentuk dari wisata yang menunjukan lokasi pedalaman yang memberi keuntungan bagi ekonomi lokal dan sosial sebagaimana membisakan interaksi antara touris (wisatawan luar dan dalam negeri) dan penduduk lokal, contoh : berkunjung ke desa.
Strategi pengembangan pariwisata pedesaan harus mempunyai dan membuat kebijakan tentang wisata berkelanjutan dalam berbagai aspek seperti lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.
Banyak aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan untuk rural tourism :
Range of tourism and recreation activities in the countryside (adapted from Thibal, 1988; Lane, 1994b: 16)
Tur :
· Berjalan kaki ( jalan setapak, jalur kebugaran, taman alam)
· Berkuda : menunggangi kuda
· Touring in egyp caravans, wagons motorized touring (trail riding, all- terrain vehicles motoring )
· Tur kota kecil atau desa kecil
· “Advanture” holidays/liburan padang gurun
· Bersepeda : mengendarai sepeda
· Menunggang keledai
· Cross-country
Aktivitas terkait bermain air :
· Penangkapan ikan
· Renang
· Wisata sungai/ kanal ( rumah perahu, spa, dan resor kesehatan kapal) : menelusuri sungai dengan perahu
· Berkano : mengendarai kano
· Selancar angin : melakukan selancar angin di pantai yang memiliki ombak yang besar
· Balap speedboat
· Pelayaran
· Facilities of the ‘aqualand’ type
Kegiatan udara :
· Light aircraft (pesawat ringan )
· Hang-gliding and micro-light aircraft ( pesawat layang)
· Hot air balloons ( balon udara panas)
Kegiatan Olah Raga :
Membutuhkan peraturan alam :
· Potholing
· Panjat tebing
· Orienteering
Membutuhkan pengaturan yang dimodifikasi / dibangun:
· Tenis
· Golf
· Intensitas rendah ski lereng
· Berburu
· Wagons motorized touring
Kegiatan Budaya :
· Arkeologi
· Situs restorasi
· Studi warisan pedesaan
· Perusahaan industri, pertanian atau kerajinan lokal
· Museum
· Kursus kerajinan
· Bengkel artistik
· Kelompok rakyat
· Rute budaya, gastronomi dan lainnya
Kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan :
· Pelatihan kebugaran
· Kursus penyerangan
· Spa dan resor kesehatan
‘Passive’ activities :
· Liburan relaksasi di lingkungan pedesaan.
· Studi alam di setting outdoor, termasuk birdwatching, photography
‘Hallmark’ events:
· Festival olahraga pedesaan
· Acara pertanian
Hubungan bisnis :
· Konvensi / konferensi berskala kecil
· Incentive tourism short-breaks
Jadi berbagai aktivitas yang ada di atas bisa dijadikan pilihan atraksi untuk mendukung rural tourism agar lebih memiliki banyak varian atraksi. Hal ini dapat meningkatkan pengunjung yang mengakibatkan peningkatan dalam sektor perekonomian desa.
Sumber : Rural Tourism and Recreation: Principles to Practice by Lesley Roberts (Editor), L. Roberts, Derek Hall
Thursday, February 15, 2018
Analisis Penerapan CBT di Desa Wisata Krebet
CBT atau singkatan dari Comunity Based Tourism akan tercipta apabila subjek yang melakukan pemberdayaan mendapatkan feedback positif dari objek yang di tuju. Objek yang dimaksud dalam hal ini yaitu suatu komunitas yang akan diberdayakan. Pemberdayaan yang dimaksud yaitu memaksimalkan kamampuan suatu komunitas agar dapat memperkuat komunitasnya dalam segi sosial dan ekonomi.
Pada pembahasan kali ini, penulis akan menganalisis Desa Wisata Krebet mengenai penerapan CBT. Desa wisata Krebet yang berada dekat dengan Goa Selarong sudah tentu memiliki kepopuleran yang tidak biasa. Desa wisata Krebet yang merupakan binaan Telkom Indonesia memiliki ke-khas-an yaitu seni membatik kayu. Hal ini tentu menjadi daya tarik dan daya jual bagi desa krebet. Warga desa krebet yang sudah memilili keterampilan dalam membatik dengan menggunakan media kayu, akhirnya menurunkan kemampuan tersebut kepada anaknya. Sehingga kemampuan ini disebut dengan kemampuan turun temurun.
Membantik dengan media kayu menjadi hal yang disuguhkan oleh Desa Wisata Krebet. Kegiatan membatik ini akan menghasilkam sebuah mahakarya dapat berupa topeng kayu, wayang, bingkai cermin, gantungan kunci, dan beberapa souvenir lainnya. Daya tarik lain yang membuat Desa Wisata krebet layak untuk dikunjungi yaitu tersedianya kuliner khas atau kuliner tradisionalnya, seperti gudeng manggar, tempe bacem, tape singkong, legen, wedang asem dan lainnya.
Makanan tradisional ini merupakan sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pengunjung yang datang ke Desa Wisata Krebet. Hal ini lah yang disebut dengan keunikan. Kerajinan tangan dan makanan tradisional merupakan identitas asli Desa Wisata Krebet. Maka, desa ini sudah dapat dikatakan sebagai desa berbasis CBT. Pemberdayaan yang dilakukan yaitu dengan cara memaksimalkan kemampuan warga desa dalam mengelola hal yang sudah ada. Dalam kaitannya, hal-hal tersebut yaitu kemampuan membuat kerajinan batik kayu dan menyuguhkan makanan tradisional sebagai penyaji untuk wisatawan yang datang. Contoh lainnya yaitu penyediaan homestay dengan menggunakan rumah warga. Jadi, Desa Wisata Krebet dapat digunakan tempat menginap dengan menggunakan rumah warga. Aktivitas tersebut jika dilakukan secara berulang maka akam menghasilkam income yang cukup banyak. Income tersebut akan digunakan untuk kebutuham operasional seperti perbaikan lokasi di Desa Wisata Krebet atau dengan memperbaiki rumah warga yang digunakan sebagai homestay. Hal ini dilakukan agar pengunjung merasa nyaman saat berada di Desa Wisata Krebet saat mencoba berbaur dengan warga setempat untuk belajar membatik atau mencoba hidup bersama.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka Desa Wisata Krebet sudah menerapkan CBT atau Community Based Tourism. Pemberdayaan tersebut berhasil memaksimalkan potensi desa yaitu dengan memiliki kemampuan membatik dengan media kayu. Selain itu, pemberdayaan tersebut mendapatkan apresiasi dari pengunjung sehingga kedatangannya mampu memberikan pendapatan teraendiri bagi warga setempat. Pendapatan tersebut digunakan untuk memperkuat komunitas.Apabila komunitas sudah kuat, maka komunitas tersebut sudahampu mandiri dalam menggunakan kemampuan apa saja yang dimiliki.
Sunday, February 11, 2018
Resume Community Based Tourism Terjemahan Indonsia
Wisata Berbasis Masyarakat ( Prinsip dan pengertian BAB 1)
Era globalisasi
mengakibatkan perubahan sosial pada masyarakat di berbagai negara. Hal ini
berdampak pada masyarakat lokal yang sumber daya sosial, budaya, dan ekonominya
kurang sehigga kesusahan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Pariwisata
adalah salah satu cara untuk membawa orang-orang dari berbagai latar belakang
bersama-sama berinteraksi. Wisata menawarkan kesempatan untuk para masyarakat
lokal memperlihatkan budaya, adat istiadat, dll kepada wisatawan untuk berbagi
perbedaan dan menghasilkan keuntungan.
Community based tourism
(CBT) atau wisata berbasis masyarakat adalah konsep
yang menekankan kepada pemberdayaan komunitas untuk menjadi lebih memahami
nilai-nilai dan aset yang mereka miliki, seperti kebudayaan, adat istiadat,
masakan kuliner, gaya hidup. Ada 3 kegiatan pariwisata yang dapat mendukung
konsep CBT yaitu Wisata petualangan, wisata budaya, dan ekowisata/ wisata berbasis lingkungan.
CBT bertujuan untuk mementingkan dampak pariwisata dan Sumber daya masyarakat dan lingkungannya. Bukan hanya berorientasi pada keuntungan bagi para investor. Secara konseptual
prinsip dasar pariwisata berbasis masyarakat adalah menempatkan masyarakat
sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan
kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya
diperuntukkan bagi masyarakat.
Tujuan utama pengembangan kepariwisataan berdasarkan konsep Community Based Tourism adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Hal iini merupakan strategi mobilisasi bagi suatu komunitas agar berpartisipatif secara aktif dalam industri pariiwsata dan perkembangannya. Tujuan ini memiliki target agar pemberdayaan sosial ekonomi suatu komunitas dapat memberikan nilai lebih dalam kepariwisataan, khususnya pada wisatawan.
Prinsip dari CBT :
- Mengakui, mendukung dan mempromosikan kepemilikan masyarakat terhadap pariwisata
- Melibatkan anggota masyarakat sejak awal dalam setiap aspek
- Mempromosikan kebanggaan masyarakat
- Meningkatkan kualitas hidup
- Memastikan kelestarian lingkungan
- Mempertahankan karakter dan budaya unik daerah setempat
- Meningkatkan pembelajaran lintas budaya
- Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia
- Membagikan manfaat secara adil di antara anggota masyarakat
- Kontribusi persentase pendapatan yang tetap terhadap proyek masyarakat.
Unsur-unsur dari CBT
- Sumber daya alam dan budaya
- Sumber data alam terpelihara dengan baik
- Ekonomi dan modal produksi bergantung pada pemanfaatan secara lestari sumber daya alam
- Destinasi
- Komunitas berbagi kesadaran, norma dan ideologi
- Komunitas memiliki pengetahuan tradisional lokal
- Komunitas memiliki rasa memiliki dan ingin berpartisipasi dalam komunitasny
- Komunitas memiliki peraturan dan peraturan untuk lingkungan, budaya, dan manajemen pariwisata
- Suatu organisasi atau mekanisme lokal ada untuk mengelola pariwisata dengan
- Manfaatnya terbagi secara merata ke semua
- Persentase keuntungan dari pariwisata berkontribusi pada dana masyarakat untuk pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat.
- Mendidik dan membangun pemahaman tentang beragam budaya dan cara hidup.
- Meningkatkan kesadaran akan konservasi alam dan budaya antar wisatawan dan masyarakat setempat.
1. Situs
·
Tujuannya memiliki
atraksi alam dan kualitas yang unik
2. Manajemen
·
Pariwisata dikelola
secara lestari.
·
Tanggung jawab
lingkungan dipromosikan.
·
Dampak lingkungan negatif
diminimalkan.
3. Proses dan aktivitas
·
Pengunjung dididik
tentang lingkungan dan ekologi situs.
·
Kesadaran lingkungan
dinaikkan diantara wisatawan dan pemangku kepentingan.
4. Partisipan
·
Komunitas lokal
berpartisipasi dalam prosesnya.
·
Penghasilan terbagi secara
adil untuk meningkatkan kualitas hidup.
·
Keuntungan dari
pariwisata berkontribusi terhadap pengembangan tujuan.
·
Perbedaan Ecotourism
dengan Cbt :
·
Ecotourism :
1. Manajemen yang bertanggung jawab atraksi alam, budaya lokal dan
kualitas unik dari tujuan.
2. Kepemilikan tidak ditentukan.
3. Manajemen pariwisata tidak ditentukan
4. Menekan pariwisata dan lingkungan hidup
·
CBT
1. Manajemen yang bertanggung jawab atas lingkungan, sumber daya
alam, sosial sistem dan budaya sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat.
2. Kepemilikan dari masyarakat.
3. Manajemen pariwisata dari masyarakat.
4. Menekan ke perkembangan holistik
Short visit ( kunjungan singkat ) : Program tur massal telah menampilkan kunjungan singkat
beberapa jam ke lokal masyarakat untuk beberapa lama.Homestay (Rumah Tinggak) : salah satu jenis pariwisata yang mempromosikan interaksi antara tuan rumah dengan wisatawan.
Komunitas berbasis wisata dan komunitas pengembangan :
Komunitas berbasis wisata yang dimaksud ialah alat untuk pengembangan masyarakat dan lingkungan konservasi. Mengerti situasi dalam suatu komunitas akan membantu memaksimalkan kapasitas komunitas berbasis wisata dan merupakan strategi efektif dalam pengembangan wisata yang berkelanjutan.
5 prinsip aspek pengembangan masyarakat :
1. Sosial :
- Keadilan sosial
- Memuaskan kualitas hidup
- Komunitas aktif organisasi
- Pembelajaran formal dan informal
- Budaya lokal berkelanjutan
- Pelestarian budaya
- Penghasilan dari produksi lokal
- Diversifikasi ekonomi lokal
- Kemandirian
- Partisipasi komunitas
- Pembangunan sebagai tanggapan terhadap kebutuhan masyarakat
- Demokratisasi
- Hak pengelolaan sumber daya alam
- Tanggung jawab lingkungan
- Konservasi sumber daya alam
CBT dapat
digunakan sebagai alat untuk pengembangan masyarakat :
·
Sosial
o
Meningkatkan kualitas
hidup
o
Peningkatan kebanggan
komunitas
o
Pembagian peran adil
antar geneder maupun generasi
o
Membangun penguatan
organisasi
·
Budaya
o
Mendorong masyarakat
untuk menghormati budaya yang berbeda
o
Membantu berkembangnya
pertukaran budaya
o
Budaya pembangunan
melekat erat dengan budaya lokal
·
Politik
o
Meningkatkan partisipasi
dari penduduk lokal
o
Peningkatan kekuasaan
komunitas yang lebih luas
o
Menjamin hak-hak dalam
pengelolaan sumber daya alam
·
Ekonomi
o
Adanya dana untuk
pengembangan komunitas
o
Terciptanya lapangan
pekerjaan di sektor pariwisata
o
Timbulnya pendapatan
masyarakat lokal dari sekotor pariwisata
·
Lingkungan
o
Mempelajari carrying
capacity area
o
Mengatur pembuangan
sampah
o
Meningkatkan kepedulian
akan perlunya konservasi sumber daya alam
Proses dalam memfasilitasi pengembangan CBT adalah :
1. Memilih tujuan destinasi
2. Sempurnakan pelajaran mengenai kelayakan kerjasama dengan
masyarakat
3. Tetapkan visi dan tujuan dengan masyarakat
4. Mengembangkan rencana untuk mempersiapkan masyarakat lokal
untuk mengelola pariwisata
5. Tetapkan dan arahkan untuk manajemen organisasi
6. Menedesain program pembelajaran
7. Melatih guide atau pemandu wisata
8. Mengembangkan rencana pemasaran
9. Meluncurkan tor program
10. Evaluasi prosesnya
Subscribe to:
Comments (Atom)

